Monday, January 5, 2015
Sepucuk Surat Setia Untukku
By : NURLIAH “VanQuish”08 UNM
Aku mencoba mencari tentang arti sebuah kesetiaan, kesetiaan yang banyak orang kata adalah kekuatan dalam cinta, begitupun percaya dan saling mengerti . . . tetapi apakah hubungan akan tetap bertahan
jika kita mencoba menjadi sosok setia, mengerti dan mencoba menjadi yang terbaik untuknya, namun pasangan kita merasa berasa akan dirinya sendiri? sementara kita terhimpit dalam jeritan hati pilu?. Mencintai dengan kasih tulus, namun tak ada pengertian diantara sela nafas cinta berdua. Aku bingung dengan semua kesesatan jiwa ini. Saat aku mencoba menjadi yang dia inginkan, namun perlahan dia seakan mengikis rasaku sendiri untuknya, sampai kapan aku harus begini? ataukah aku yang salah menjelaskannya, sehingga dia tetap merasa di awan? sementara aku bagai bidadari kecil yang terbenam di awan?. Aku ingin semuanya ada pada rasa dan maknanya. Aku ingin melepasnya tapi tak mampu. Apa yang harus aku lakukan dengan keadaanku ini . . .? menyakitinya? namun lebih menyakitkan ketika merelakannya, sementara hati menginginkannya ada di sisi. Tuhan . . . biarkanlah dia mengerti dengan semuanya, mengerti akan dalamnya lukaku karena cintaku padanya. **************************** “Sudahlah Nita …. “ kata Ayu sambil meraih pundakku. Tak terasa air mataku jatuh perlahan bak hujan membasahi bumi di pagi kelabu, sementara Ayu hanya terdiam di sampingku menatap kaku pada sudut-sudut kamar, entah apa yang dia pikirkan setelah aku meluapkan semua beban perasaanku padanya, mungkin dia merasa ibah padaku atau mungkin khawatir ? “ Kamu harus tegar Nita …! ” bisik benakku. Mencoba menepihkan rasa sakitku, namun tetap saja aku tak bisa melawan penderitaan jiwa yang aku rasakan, sekali lagi Ayu mencoba melerai tangisku, namun setiap Ayu mencoba mengungkapkan sesuatu airmata ini makin tertumpah liar. Tak tahan melihatku seperti ini Ayu pun permisi pamit dan meninggalkan sebait kata untukku di sudut meja belajarku. “ Jangan tangisi Dia yang telah melukaimu, seberapa besarpun kamu mencintainya, Dia takkan merasakannya ”. Seakan-akan Ayu mencoba memberiku jalan keluar dari permasalahanku saat ini dan itu berarti aku harus melupakan dia yang selama ini telah terkubur dalam di sanubariku. Dia adalah Andre, kami tak terspisahkan, kami mencintai dan menyayangi satu sama lain, suka duka kami jalani, tapi entah mengapa di saat aku begitu mencintainya dan tak ingin kehilangan dia malah menjauh & menghilang bagai tertelan bumi. Setiap waktu aku sempatkan untuk mencari tahu keberadaanya, namun tak ada satupun sanak ataupun teman yang tahu dimana Andre saat ini, hatiku perih bak luka yang di tetesi air garam, aku hancur dan terbenam dalam kekalutan, hidupku menjadi tak jelas, semuanya suram di pelupuk mataku. Berselang beberapa bulan kemudian aku mulai bangkit, meskipun luka masih terasa amat perih, aku mencoba menjadi diriku yang dulu, dan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Hari-hari pun berlalu dan aku telah mampu menghapus jejak Andre dalam benak dan pikiranku. Luka ini memang sangat berat untuk aku pikul, namun aku bahagia akhirnya aku bisa melupakannya, meskipun di sela-sela waktu senjangku, aku selalu merindukannya. Aku tak pernah berharap ia akan kembali padaku, hati ini sudah terlalu sakit untuk menerimanya di kehidupanku lagi, mungkin karena aku terlalu mencintainya, sehingga aku tak ingin merasakan lukanya lagi untukku, aku telah benar-benar melepasnya, mengubur semua moment-moment indah bersamanya dan tak akan mengingatnya lagi, meskipun hatiku berkata hanya dia kisah terindahku dan takkan tergantikan, tetapi aku akan mencoba melewati hari-hariku dengan segala apa yang akan terjadi padaku. Bersamanya adalah hari yang takkan pernah bisa terlupakan. ********************************** Di Pantai Bahari sore itu . . . terdengar suara petikan gitar diikuti alunan bait lagu di seberang tempatku berdiri ,alunannya begitu menukik senduh di telingaku seakan aku bisa merasakan kegelisahan pesan dari petikan gitarnya. Aku terbawa oleh suasana senja sore itu dan entah mengapa hati ini tergerak untuk menyapanya. “ Lagunya kayaknya dalam banget !” sapaku pada sosok pria itu. Diapun segera membalas sapaanku dengan senyuman ramah dan segera melanjutkan petikan gitarnya, entah apa maksud dari lagu itu, tapi yang pasti ia terlihat terhimpit jurang kepiluan dengan lagu yang baru saja ia senandungkan dan itu sangat terlihat jelas di matanya. Berselang beberapa menit, ia memulai pembicaraannya padaku. “ Dari tadi aku memperhatikanmu di seberang sana, sepertinya kamu lagi dalam dilema yah ? “ ucapnya. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia langsung mengulurkan tangannya sambil berkata. “ Eh sorry … Aku Dimas !” “ Nitha…” jawabku pada Dimas. Bisikku dalam hati . . . “Dimas orangnya ramah banget yach… persis dengan sikap Andre padaku”. Lama memandangnya Dimas jadi salah tingkah. “ Maaf yah …. Aku menatap kamu seperti ini, aku hanya teringat dengan seseorang “ tegasku tersentak dari lamunanku pada Dimas. “ Gak apa Nit … Aku nyantai aja tuch, senang aja di perhatiin, tandanya aku menarik di matamu” ucap Dimas mencoba menetralkan suasana. “ Narsis banget sich kamu jadi orang, gak bisa di lihatin dikit aja !” Ucapku bercanda. Tak terasa hari telah gelap, benang-benang merah telah menampakkan dirinya, itu berarti aku harus pulang, akupun segera pamit pada Dimas, Dimas pun sebaliknya padaku. Setelah perkenalan manis itu, kami sering berhubungan dan semuanya berlanjut seperti air yang mengalir pada hulu dan hilirnya. Sesuatu yang tak pernah terpikir olehku sebelumnya, kini jelas terpampang di hadapanku, entah apa yang membuat Dimas tertarik padaku, hal ini terjadi begitu saja. Malam itu … aku berdiam sendiri menatap kaku bibir Pantai Bahari, memandangi lion- lion kecil di lautan, yang sedang menari bebas bersama alam dan bernyanyi bersama karang yang selalu setia menjadi terpannya. Dari dalam tas tiba-tiba terdengar deringan ponselku. “ Dimas ? ngapain Dia nelphon ?” ucapku penasaran. Tanpa kata sepatah katapun dia mengatakan hal yang mustahil bagiku. Dia mulai berbisik pelan padakudiantara gemerisik ombak malam itu. “ Aku menyukaimu Nitha, bukan Karena kita berteman, tapi karena cinta”. Bibirku terasa kaku, aku shok, bingung dengan apa yang baru saja aku dengar, dari dalam ponsel terdengar suara Dimas berulang-ulang memanggil namaku. “ Nitha… Nitha… Kamu kenapa Nit ?, Nitha …” “ Dimas biarkan aku tenang dan sendiri, untuk beberapa hari tolong jaga jarak denganku …. Tut…tut…tut…” ucapku pada Dimas sambil me-reject dan segera me-non aktifkan ponselku. Aku terengah dengan apa yang telah terjadi, aku bertanya- bertanya kebingungan pada diriku sendiri. “ apakah aku telah memberikan dia harapan? tapi aku hanya berteman dengannya ! “. Tiga hari berselang Dimas mendatangi rumahku. “ Nit… Ada nak Dimas nyariin kamu di bawah” kata Mama di balik pintu kamarku. “ Iya mam …” Ucapku bergegas dari dalam kamar. Sesampainya di teras halaman depan aku menatap Dimas dalam-dalam. “ Dimas, aku pernah sangat mencintai seseorang dan sampai saat ini aku masih setia untuknya, meskipun aku tak tahu keberadaannya sampai saat ini, aku hanya ingin mencintai dan di cintai olehnya, maaf aku tak bisa mencintaimu” Ucapku lirih. “ Nit, aku mencintaimu bukanlah karena sesuatu yang aku lihat dari fisikmu, aku mencintaimu karena hati yang kau miliki, kamu membuatku merasa di hargai, aku juga pernah sepertimu, tapi aku mencoba membuka coretan baru di kisah hidupku dan aku memilihmu untuk mengisi lembaranku dengan coretanmu, aku tak semudah ini mencintai, tapi kamu berbeda Nit … dan…” Belum sempat Dimas menyelesaikan pembicaraannya . . . “ Kamu pun berbeda Dimas, tapi aku takut… sangat takut untuk memberikan hatiku pada orang lain , aku takut rasa sakit itu Dimas “ ucapku menunduk meneteska air mata di hadapan Dimas. Dimas merangkulku . . . “ Aku menyayangimu Nitha . . . sekarang kamu masuk yach … kamu tenangin pikiranmu, jika memang kamu gak bisa menerima rasa dan keadaan ini, kamu gak usah maksain, karena aku juga dapat merasakan lukamu yang masih membekas hebat di relungmu. Aku juga ada urusan penting, jadi harus segera kembali “ ucap Dimas dengan memprlihatkan ketegarannya di hadapanku. Meskipun dia mencoba mengelabui mataku dengan ketegarannya itu, namun aku bisa merasakan betapa sakitnya rasa yang tak terbalas olehku. “ maafkan aku Dimas !” “ Sesuatu yang dalam tertancap di hati, gak akan mungkin mudah aku hapus dan aku telah mengerti dengan semuanya. Aku pamit Nit . . . ” “ Brmmmm…. Brmm …. “ Suara motor Dimas semakin terdengar kecil dan menghilang dari pandanganku. Saat itulah saat terakhir aku bisa bersua dengannya, ternyata pertemuanku semalam adalah pertemuan perpisahanku dengan Dimas. Dimas telah pergi untuk selamanya, ia telah berpulang keharibaan Yang Maha Kuasa …. Hatiku tersayat mendengar kabar kepergiannya, kata Adiknya yang sempat aku temui di kediaman duka, Dimas mengalami kecelakaan pukul 23.34 WITA semalam, Dimas menemuiku pada pukul 20.00 WITA, artinya berselang lebih dari 2 jam, dia mengalami kecelakaan, dan Dimas langsung kembali ke rumah setelah menemuiku dan menitipkan surat untukku melalui adiknya, setelah itu dia meninggalkan rumah dan terdengarlah kabar duka itu. Air mataku beruntun jatuh. “ Mengapa saat aku mencintai, aku kehilangan dan saat hadir seseorang yang sangat menyayangiku, aku tak bisa mencintainya, sampai kapan aku harus memiliki rasa ini Tuhan … Aku telah membuatnya untuk segera menghadap-Mu, semuanya karenaku, andai aku membalas cintanya, ini takkan terjadi padanya “. Selama 2 hari aku mengurung diri di kamar dan membuat semua orang khawatir padaku, aku benar-benar merasa bersalah dan kalut …. Dari balik tas ransel aku mengambil sehelai kertas, yang tiada lain adalah surat yang Dimas rangkaikan untukku sebelum kepergiannya. Aku mulai membuka dan membaca kata demi kata dan air mataku makin tertumpah liar : “ Aku tak pernah berharap mencintaimu Aku tak pernah ingin menyayangimu, tetapi Aku akan terus mencintaimu Meskipun kamu tak pernah mencintai dan menyayangku “ “Untuk Nitha Terkasih” Sampai detik ini aku belum mendapatkan arti kesetiaan yang sejati, kepergian Dimas membuatku semakin tak mengerti dengan arti kesetiaan itu. Aku hanya memcintai Andre dan dia menghilang begitu saja dan tak pernah kembali sementara Dimas adalah orang yang ikhlas mencintaiku dengan kasih sayangnya, apakah aku masih bisa mempercayai kesetiaanku sendiri ? sementara kesetiaanku tak terbalas ? Bisik hatiku. Aku merasa terhimpit dalam asaku. Aku telah menyadari sepenuhnya ternyata cinta tak selamanya harus memiliki dan dimiliki. Andre yang aku anggap sebagai orang yang paling mencintaiku ternyata menghilang begitu saja, dan aku yakin inilah sepucuk surat setia untukku dari Andre. Dia membiarkanku dalam kesendirian untuk menguji kesetiaanku. Aku tak akan menghiraukan perkataan siapapun, apapun yang mereka katakan untukku, aku akan tetap setia untuk Andre, karena semua rasa ini untuknya, meskipun jika di akhir hayatku dia tak kunjung mendampingiku. Ketulusan hatiku hanya mampu ku lepaskan untuknya, biarkanlah hidupku berjalan dengan selaksanya dan jalannya sendiri meskipun harus hidup menderita tanpanya, aku akan tetap menunggu sampai saatku tiba. ***************************SEKIAN************************
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment