Thursday, December 18, 2014
PUISI TONGGAKKU MULAI RUNTUH
TONGGAKKU MULAI RUNTUH
Karya:Nurliah
Nada sumbang itu mulai menyeruak
Mencoba menelantarkanku dengan bait garis khatulistiwa
Yang tak lagi seinsan pertiwiku
Memaksakan tong-tong yang tak layak
Dengan irama yang tak senada
Aku izinkan diriku dengan peluh
Bernyanyi “Indonesia Raya” dengan nada sumbang
Ku coba menghilangkan bait demi bait
Lalu berteriak tanpa merdu
Seperti tak merdunya perjuangan bangsaku
Dan untuk tanahku yang tak kunjung mengibarkan Sakaku
Kuizinkan kau berkelana
Tanpa denyut ibu pertiwi
Agar kau menemukan pertiwi dengan nadimu
Dentuman kala petang menyeruak dibalik ronah megah merah
Dan mulai menela’ah…
Peduli apa mereka tentang tanahku….
Aku seperti bangkai jalang yang terkapar di megahnya pusara para pejuang bangsaku
Ketikaku kibarkan melodi bangsaku
Rontak mereka tertawa menggelitik
Ckkkkkk……..
Sok nasionalis….
Kata mereka!!!
Lalu tanpa daya aku menyerang mereka dengan nada yang lebih tinggi
Agar mereka tahu…………
Bukan aku yang harus melarikan nada-nada itu
Tapi mereka…!!!
Mereka yang harusnya berkata padaku…
Bahwa tonggak sejarah bangsa sekarang ada ditanganmu!!!
Bahwa dahulu kami juga berjuang meski tanpa senjata!!!
Bahwa kami juga ikut menangis menyaksikan perangai bangsaku!!!
Bahwa kami juga mendendangkan lagu kebangsaanku!!!
Bahwa kami mencintai tanah ini tanpa pamrih!!!
Tapi……………..
Kenapa ???
Tak satupun dari mereka sepertiku!!!
Aku malu menyaksikan kaca-kaca bening bangsaku perlahan runtuh
Ditenggelamkan ombak tanpa sayap
Aku miris menyaksikan tanahku bak kota indah berlatarkan kelam
Kelam dengan selaksa yang tak layak untuk negeriku
Yang tak seirama dengan lagu kebangsaanku
Yang tak pernah usai menuai detak keinsanan di dalam taring yang tak pernah tajam.
Bagai bernaung pada tanah sejengkal yang telah usai
Meraih riwayat para petua yang membebankan nama pertiwi
Bereok-reok bagai sanjung yang kosong ditelan malam
Bagai bangsaku yang gemerlap tapi hitam pekat
Sinarmu hampir redup ditelan malam negeriku!
Apa kamu akan tetap pada pekatmu?
Atau akan menuliskan nama rakyatmu?
Atau kau hanya ingin berceloteh dengan kami?
Kemudian…
Aku abadikan senja yang hampir suram
Suram dalam janji petinggiku yang tak kunjung bersegera
Sementara kami hampir ditenggelamkan kabut malam.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment