Tuesday, July 24, 2012

Maniak Penghargaan


By Lhia VanQuish ‘08’ UNM

“Apakah bangsa ini
Ingin di pimpin oleh para dajjal pemerintahan
Seharusnya mereka berseteru
Dengan toleransi, empati dan dialog
Bukan dengan perspektif apatis”

             Lasimnya kita dengar istilah politik yang di anekdotkan dalam  humor anak bangsa, begitulah perpolitikan dalam fenomena saat ini. Begitu banyak kalangan yang mencari peruntungan di dunia politik, namun yang sangat menggelitik, tanpa usaha yang berarti, cukup dengan beroknum dengan para dengan koalisi, mereka bisa dengan mudah duduk di kursi parlement. Mereka merasa bangga menjadi komunitas politik, tanpa tahu wewenang dan tanggung jawab apa yang harus di embat, sepertinya menjadi aktor politik adalah tren yang paling marak saat ini. Mereka beribawah dengan sebutan oknum-oknum politik bangsa yang menjadikan dunia perpolitikan sebagai lahan basah, sehingga bukan hal yang ironis lagi, jika banyak praktisi-praktisi politik mengeluarkan stekmen yang aneh dan lucu.
Mereka berani berbicara di fodium-fodium dengan retorika hasil cetakan dari para pakar ternama, jika memangnya mereka adalah para pelaku politik, lalu… mengapa mereka takut untuk berpendapat dengan bahasanya sendiri ? mengapa mereka tidak menulis dengan pemikirannya sendiri ?atau apakah mereka malu, karena mereka memang tak mampu tuk bicara politik ? layaknya mereka di gelari dengan gelaran para pemburu maniak penghargaan, pemburu sapaan yang begitu gila dengan gelar, jika tak di panggil dengan “Prof, maestro, dr, ir dll”. Tapi lucunya juga lagi, rakyat bukanlah orang-orang bodoh yang selalu ingin di tindas dengan berbagai bentuk politik, mereka pikir siapapun yang ada di bawah mereka adalah patung-patung maniak yang bisa di sewenang-wenangkan. Asal tahu saja rakyat tak ada yang peduli dengan gelar apapun yang di sandang para pelaku bangsa ini. Mereka tak selayaknya di juluki para pelaku politik, namun cocoknya adaah para tikus sangat kotor dan menjijikan.

No comments:

Translate