By
Lhia VanQuish ‘08’ UNM
“Apakah bangsa
ini
Ingin
di pimpin oleh para dajjal pemerintahan
Seharusnya mereka
berseteru
Dengan
toleransi, empati dan dialog
Bukan dengan
perspektif apatis”
Lasimnya kita dengar
istilah politik yang di anekdotkan dalam
humor anak bangsa, begitulah perpolitikan dalam fenomena saat ini.
Begitu banyak kalangan yang mencari peruntungan di dunia politik, namun yang
sangat menggelitik, tanpa usaha yang berarti, cukup dengan beroknum dengan para
dengan koalisi, mereka bisa dengan mudah duduk di kursi parlement. Mereka
merasa bangga menjadi komunitas politik, tanpa tahu wewenang dan tanggung jawab
apa yang harus di embat, sepertinya menjadi aktor politik adalah tren yang
paling marak saat ini. Mereka beribawah dengan sebutan oknum-oknum politik
bangsa yang menjadikan dunia perpolitikan sebagai lahan basah, sehingga bukan
hal yang ironis lagi, jika banyak praktisi-praktisi politik mengeluarkan
stekmen yang aneh dan lucu.
Mereka berani
berbicara di fodium-fodium dengan retorika hasil cetakan dari para pakar
ternama, jika memangnya mereka adalah para pelaku politik, lalu… mengapa mereka
takut untuk berpendapat dengan bahasanya sendiri ? mengapa mereka tidak menulis
dengan pemikirannya sendiri ?atau apakah mereka malu, karena mereka memang tak
mampu tuk bicara politik ? layaknya mereka di gelari dengan gelaran para
pemburu maniak penghargaan, pemburu sapaan yang begitu gila dengan gelar, jika
tak di panggil dengan “Prof, maestro, dr, ir dll”. Tapi lucunya juga lagi,
rakyat bukanlah orang-orang bodoh yang selalu ingin di tindas dengan berbagai
bentuk politik, mereka pikir siapapun yang ada di bawah mereka adalah
patung-patung maniak yang bisa di sewenang-wenangkan. Asal tahu saja rakyat tak
ada yang peduli dengan gelar apapun yang di sandang para pelaku bangsa ini.
Mereka tak selayaknya di juluki para pelaku politik, namun cocoknya adaah para
tikus sangat kotor dan menjijikan.
No comments:
Post a Comment