Tuesday, July 24, 2012

GERAKAN MAHASISWA POLMAN HARI INI



BY Lhia VanQuish ‘08’ UNM/Nurliahvanquish@yahoo.co.id
Jika hatimu tersenyum bangga
Melihat Bumi Mandar, maka kau adalah
Saudara kami . . . !
  Apa yang mesti kita lakukan ?
Orang kuat adalah mereka yang berani mengayuh sampannya di tengah besarnya gelombang badai, bukan mereka yang duduk di tepi pantai dan menunggu sampai gelombang laut surut.“
            Orang yang bijak dalam menjalani hidup adalah mereka yang senantiasa melihat permasalahan kemudian berfikir dan berani bertindak untuk menyelesaikan masalah (kritis) bukan justru melihat masalah dan bersikap seolah-olah tak tahu masalah bahkan lari meninggalkan masalah (apatis). Begitulah mungkin gambaran kecil tentang bagaimana keadaan gerakan mahasiswa Polman hari ini, yang seharusnya menjadi tonggak bagi Bumi Mandar, namun nyatanya tak sejalan dengan apa yang seharusnya. Mestinya kita bisa berbuat yang terbaik dan menjadi pelaku-pelaku yang mampu menyelesaikan masalah-masalah Daerah yang terjadi saat ini. Bukan justru berlari mundur, bahkan tidak sedikit dari kita menjadi pelaku kesalahan dan bahkan menjadi korban.
            Kita harus bangkit dengan kesadaran penuh, bahwa kita adalah pembawa perubahan ( Agent of Change ), social conrol dan sebagai pelindung moral ( Moral Force ) bagi Daerah Mandar, namun fakta yang ada, sama sekali tak ada sedikitpun pergerakan yang terjadi. Semuanya hanya sebatas teriakan-teriakan di bibir saja, mestinya kita mampu berjalan kedepan membangun potensi Daerah. Hari ini kita masih berada pada posisi sulit, karena di hadapkan dengan aneka masalah pergerakan mahasiswa Polman yang hanya bisa bungkam. Menginventerisasi masalah sudah sangat sulit akibat terlampau banyaknya permasalahan saat ini, namun tidak berarti kita pasrah saja, karena selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah, dengan kata kunci “ rela berkorban “ . kita harus berani meninggalkan budaya-budaya konsumtif yang selama ini telah menghegemoni fikiran kita. Seakan-akan kita ingin menunjukkan bahwa kita juga dapat mengikuti berbagai atribut yang sedang “ in “, padahal tanpa kita sadari mode itu akan selalu berubah, sehingga kita juga tak pernah meras puas dengan apa yang dimiliki, alhasil muncullah perilaku konsumtif yang tak sedikit harus mengambil biaya yang sangat tinggi, bahakan berani menjual nama Kuliah untuk memuaskan bathin, itu karenakan karena kita terlalu ingin diakui keeksistensian kita oleh public, dengan berusaha menjadi bagian dari public tersebut.
            Sebagai tonggak Bumi Mandar, kita harus tetap bergerak, memang benar bahwa Mahasiswa tugasnya adalah belajar, itu adalah hal yang benar dan tak ada seorangpun yang membantahnya, tapi ketika di tanyakan kembali, apa yang harus kita lakukan ? apakah kita hanya bisa diam menunggu nasib mujur kita untuk di terima bekerja dan akhirnya kita hidup cukup, lalu menjadi tua kemudian mati ? hidup tak sesederhana itu kawan . . . !!! kita harus bangun menatap kedepan, seharusnya kita mampu bertengger di Daerah, kenapa mesti kita yang menjadi terasing di Daerah sendiri, sangat ironis memang. Tidakkah kita adalah seorang Mahasiswa  yang mampu dengan segala aspek, harusnya kita malu memakai atribut Mahasiswa, jika bisa hanya diam. Andai semua Mahasiswa Polman, paham akan jati dirinya. Saya pikir Bumi Mandar akan punya sejuta potensi untuk dikembangkan, kita jangan mau menjadi Mahasiswa yang hanya ingin meminta pamrih dari pemerintahan, yang begitu mudah dimainkan oleh penguasa. Kita harus berdiri sebagai oposisi sejati di tengah-tengah komunitas yang oportunis dan hipokrit.
            SAUDARAKU . . . ! ingatlah hakikat manusia bukanlah pada fisiknya, tapi ada pada bagaimana manusia itu mampu memfungsikan akalnya positif, Mahasiswa memang bukanlah manusia super yang punya kekuatan lebih, tapi setidaknya kita punya niat suci untuk melakukan perubahan untuk diri, keluarga, masyarakat dan daerah tempat kita berpijak, kita harus mampu berjalan diatas kebenaran dan komitmen.

           

No comments:

Translate