BY Lhia VanQuish ‘08’ UNM/Nurliahvanquish@yahoo.co.id
Jika
hatimu tersenyum bangga
Melihat
Bumi Mandar, maka kau adalah
Saudara
kami . . . !
Apa
yang mesti kita lakukan ?
“Orang kuat adalah mereka yang berani
mengayuh sampannya di tengah besarnya gelombang badai, bukan mereka yang duduk
di tepi pantai dan menunggu sampai gelombang laut surut.“
Orang
yang bijak dalam menjalani hidup adalah mereka yang senantiasa melihat
permasalahan kemudian berfikir dan berani bertindak untuk menyelesaikan masalah
(kritis) bukan justru melihat masalah
dan bersikap seolah-olah tak tahu masalah bahkan lari meninggalkan masalah (apatis). Begitulah mungkin gambaran
kecil tentang bagaimana keadaan gerakan mahasiswa Polman hari ini, yang seharusnya
menjadi tonggak bagi Bumi Mandar, namun nyatanya tak sejalan dengan apa yang
seharusnya. Mestinya kita bisa berbuat yang terbaik dan menjadi pelaku-pelaku
yang mampu menyelesaikan masalah-masalah Daerah yang terjadi saat ini. Bukan
justru berlari mundur, bahkan tidak sedikit dari kita menjadi pelaku kesalahan
dan bahkan menjadi korban.
Kita
harus bangkit dengan kesadaran penuh, bahwa kita adalah pembawa perubahan ( Agent of Change ), social conrol dan
sebagai pelindung moral ( Moral Force
) bagi Daerah Mandar, namun fakta yang ada, sama sekali tak ada sedikitpun
pergerakan yang terjadi. Semuanya hanya sebatas teriakan-teriakan di bibir
saja, mestinya kita mampu berjalan kedepan membangun potensi Daerah. Hari ini
kita masih berada pada posisi sulit, karena di hadapkan dengan aneka masalah
pergerakan mahasiswa Polman yang hanya bisa bungkam. Menginventerisasi masalah
sudah sangat sulit akibat terlampau banyaknya permasalahan saat ini, namun
tidak berarti kita pasrah saja, karena selalu ada jalan keluar untuk setiap
masalah, dengan kata kunci “ rela
berkorban “ . kita harus berani meninggalkan budaya-budaya konsumtif yang
selama ini telah menghegemoni fikiran kita. Seakan-akan kita ingin menunjukkan
bahwa kita juga dapat mengikuti berbagai atribut yang sedang “ in “, padahal tanpa kita sadari mode
itu akan selalu berubah, sehingga kita juga tak pernah meras puas dengan apa
yang dimiliki, alhasil muncullah perilaku konsumtif yang tak sedikit harus
mengambil biaya yang sangat tinggi, bahakan berani menjual nama Kuliah untuk
memuaskan bathin, itu karenakan karena kita terlalu ingin diakui keeksistensian
kita oleh public, dengan berusaha menjadi bagian dari public tersebut.
Sebagai
tonggak Bumi Mandar, kita harus tetap bergerak, memang benar bahwa Mahasiswa
tugasnya adalah belajar, itu adalah hal yang benar dan tak ada seorangpun yang
membantahnya, tapi ketika di tanyakan kembali, apa yang harus kita lakukan ?
apakah kita hanya bisa diam menunggu nasib mujur kita untuk di terima bekerja
dan akhirnya kita hidup cukup, lalu menjadi tua kemudian mati ? hidup tak
sesederhana itu kawan . . . !!! kita harus bangun menatap kedepan, seharusnya
kita mampu bertengger di Daerah, kenapa mesti kita yang menjadi terasing di
Daerah sendiri, sangat ironis memang. Tidakkah kita adalah seorang
Mahasiswa yang mampu dengan segala
aspek, harusnya kita malu memakai atribut Mahasiswa, jika bisa hanya diam.
Andai semua Mahasiswa Polman, paham akan jati dirinya. Saya pikir Bumi Mandar akan
punya sejuta potensi untuk dikembangkan, kita jangan mau menjadi Mahasiswa yang
hanya ingin meminta pamrih dari pemerintahan, yang begitu mudah dimainkan oleh
penguasa. Kita harus berdiri sebagai oposisi sejati di tengah-tengah komunitas
yang oportunis dan hipokrit.
SAUDARAKU
. . . ! ingatlah hakikat manusia bukanlah pada fisiknya, tapi ada pada bagaimana
manusia itu mampu memfungsikan akalnya positif, Mahasiswa memang bukanlah
manusia super yang punya kekuatan lebih, tapi setidaknya kita punya niat suci
untuk melakukan perubahan untuk diri, keluarga, masyarakat dan daerah tempat
kita berpijak, kita harus mampu berjalan diatas kebenaran dan komitmen.
No comments:
Post a Comment